Terapan
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Loganue Saputra Jr {alf}
Ingin mengubah hidup dengan fiksi. Dan setelah itu ingin mengubah dunia menjadi lebih baik.
Ruang & Waktu serta Kecepatan Cahaya
OPINI | 24 February 2011 | 17:05 147 27
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Komet adalah benda langit yang memiliki lintasan panjang dan kadang teratur, bentuknya yang terasa berekor (karena kecepatan gerak yang terbentuk akibat tekanan osmotik ruang angkasa mengakibatkan nyala pergerakan yang dibuatnya menimbulkan cahaya yang seolah-olah tertinggal). Nah dalam teori kecepatan cahaya, kecepatan lintasan komet sering di persepsikan sebagai kecepatan cahaya yang menembus pergerakan ruang hampa udara dimana pergerakannya itu menimbulkan gelombang udara yang menyeret lintasannya sendiri dan menghilang dalam hitungan detik.
Dengan teori bahwa pergerakan benda langit yang menggunakan kecepatan lintasan yang hampir menyamai kecepatan cahaya dan dengan pergerakan itu bisa menciptakan udara yang mengakibatkan pergesekan benda langit dengan ruang hampa udara sehingga terbentuklah nyala api yang terlihat samar maka, perjalanan waktu dengan melintasi pergerakan cahaya bisa dilakukan.
Ibaratnya seperti sekumpulan burung terbang yang membentuk pormasi meruncing dimana burung paling depan memiliki tugas untuk memecah ruang udara sehingga pergerakan mereka akan selalu tetap konstan. Jadi bagaimana cara mengikuti lintasan suatu komet untuk membentuk perjalanan antar galaksi?. Jawabannya adalah dengan mengikuti panjang lintasan suatu komet yang menembus pergerakan ruang dan waktu yang melewati suatu galaksi setiap ribuan tahun kecepatan cahaya.
Jika di piker dengan sangat jelas, terlalu mustahil manusia melakukan hal itu akan tetapi bagaimana jika kemudian pergerakan kecepatan cahaya itu kita samakan dengan teori yang pernah di cetuskan oleh Einstein?, simak sedikit penjelasan tentang teori di bawah ini :
Teori ini merupakan penjelasan gravitasi termutakhir dalam fisika modern, relativitas khusus, dengan hukum gravitasi Newton. Hal ini dilakukan dengan melihat gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi lebih sebagai manifestasi dari kelengkungan ruang dan waktu. Utamanya, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan momentum empat yakni energi massa dan momentum linear, dari materi atau radiasi apa saja yang ada. Hubungan ini digambarkan oleh persamaan medan Einstein. Teori ini memprediksikan adanya keberadaan daerah lubang hitam yang mana ruang dan waktu terdistorsi sedemikiannya tiada satu pun, bahkan cahaya pun, yang dapat lolos darinya. Terdapat bukti bahwa lubang hitam bintang dan jenis-jenis lubang hitam lainnya yang lebih besar bertanggungjawab terhadap radiasi kuat yang dipancarkan oleh objek-objek astronomi tertentu, seperti inti galaksi aktif dan miktrokuasar. Melengkungnya cahaya oleh gravitasi dapat menyebabkan fenomena pelensaan gravitasi.
Nah dalam teori di atas di katakana radiasi kuat yang di pancarkan oleh objek-objek astronomi tertentu, dalam hal ini kita bisa mengambil contoh yaitu komet tadi, di mana pergerakannya benar-benar bisa menembus ribuah tahun kecepatan cahaya dalam beberapa menit saja.
Setelah penjelasan panjang ini maka aka nada lagi pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah pesawat yang di ciptakan manusia bisa memiliki kecepatan yang seimbang dengan kecepatan komet sedangkan persediaan bahan bakar yang dimiliki tidak akan pernah cukup untuk melakukan ini semua.
Maka dengan bangga penjelasan ini akan terasa masuk akal jika bahan bakar yang digunakan adalah “antimateri” sebuah energi yang berbentuk kecil tetapi memiliki kekuatan yang melebihi ribuan kecepatan cahaya
Lalu, kita bisa menciptakan kecepatan melebihi kecepatan cahaya dengan antimateri itu, mengontrol massa antimateri yang digunakan dengan perhitungan yang matang serta tepat lalu membatasi energi yang terpancarkan dengan gelombang grafitasi sehingga kelengkungan ruang dan waktu terkontrol dengan tepat.[]
Tulisan ini adalah analisa ngaur yang aku tulis sebagai ringkasan materi fiksi ilmiahku yang berjudul N. data dalam tulisan ini adalah data nyata yang di campur aduk dengan pemikiran rasional dalam kepalaku, jadi jangan perotes jika perhitungan dalam teori-teori ini adalah salah karena masih belum pernah diuji cobakan.
1298541805450924040
About Kompasiana
Peluang Bisnis Pulsa di www.d-cell.com PT. Datacell Infomedia membuka kesempatan menjadi Dealer Pulsa
Kamis, 24 Februari 2011
Information and Communication Technologies for Development
Information and Communication Technologies for Development
From its creation in 1970, the International Development Research Centre (IDRC) has been committed to advancing the role of information in development. A tradition of innovation that began with an emphasis on building databases and information systems has evolved into a focus on the transformative nature of information and communications technologies (ICTs).
IDRC was one of the first development agencies to embrace ICTs as a key means to foster development and alleviate poverty.
* Acacia Initiative
Communities and the Information Society in Africa Program Initiative increases the capacity of African communities to apply Information and Communication Technologies (ICTs) to their own social and economic development.
* ICT4D Conferences and Events
* Connectivity Africa
Connectivity Africa program has been closed as of February 2008.
* ICT4D in the Americas
* ICT4D in Middle East Project
A new corporate project that covers five countries in the Middle East: Lebanon, Jordan, Syria, West Bank and Gaza, and Yemen.
* Pan Asia Networking
Studying the impacts of ICTs on people, culture, the economy, and society in order to strengthen ICT uses that promote sustainable development.
* Exploring the impact of public access to ICT
A corporate project that aims to build research capacity and increase the understanding of social and economic impact of public access to ICT.
* telecentre.org
An initiative aimed at helping community telecentres around the world increase their capacity and promote digital development.
News
African Universities Need Affordable and Reliable Broadband 2009-10
Most universities in Africa pay about 100 times as much for the Internet as do those in Canada. IDRC is working to help solve this problem.
Multimedia
Map of "Teleaccess : Inside Africa"
Learn everything about the status of Teleaccess in Africa
IDRC_Teleaccess_small.gif
Open and Closed Skies: Satellite Access in Africa
Africa’s vast inaccessible terrain and insufficient energy infrastructure makes it difficult and costly to roll out wire-line networks and fibre optic links in heartland areas. Low-cost satellite-based Internet therefore responds to the access crisis in the region, and provides a potentially affordable opportunity for connectivity.
VSATMapWebversionEnglish.jpg
Document(s)
ICTs, Human Development, Growth and Poverty Reduction: A Background Paper (2009) 2009-04-28
Open file
Open ICT4D 2008-11-19
A working paper that explores the relevance and significance of Openness for ICT4D. Open file
telecentre.org Brochure 2005-11
Click on the file below to read about telecentre.org. Open file
Form(s)
ICT4D Project Directory
Advanced Search
guest (Read)(Ottawa) Login Home|Careers|Copyright and Terms of Use|General Infomation|Contact Us|Low bandwidth
From its creation in 1970, the International Development Research Centre (IDRC) has been committed to advancing the role of information in development. A tradition of innovation that began with an emphasis on building databases and information systems has evolved into a focus on the transformative nature of information and communications technologies (ICTs).
IDRC was one of the first development agencies to embrace ICTs as a key means to foster development and alleviate poverty.
* Acacia Initiative
Communities and the Information Society in Africa Program Initiative increases the capacity of African communities to apply Information and Communication Technologies (ICTs) to their own social and economic development.
* ICT4D Conferences and Events
* Connectivity Africa
Connectivity Africa program has been closed as of February 2008.
* ICT4D in the Americas
* ICT4D in Middle East Project
A new corporate project that covers five countries in the Middle East: Lebanon, Jordan, Syria, West Bank and Gaza, and Yemen.
* Pan Asia Networking
Studying the impacts of ICTs on people, culture, the economy, and society in order to strengthen ICT uses that promote sustainable development.
* Exploring the impact of public access to ICT
A corporate project that aims to build research capacity and increase the understanding of social and economic impact of public access to ICT.
* telecentre.org
An initiative aimed at helping community telecentres around the world increase their capacity and promote digital development.
News
African Universities Need Affordable and Reliable Broadband 2009-10
Most universities in Africa pay about 100 times as much for the Internet as do those in Canada. IDRC is working to help solve this problem.
Multimedia
Map of "Teleaccess : Inside Africa"
Learn everything about the status of Teleaccess in Africa
IDRC_Teleaccess_small.gif
Open and Closed Skies: Satellite Access in Africa
Africa’s vast inaccessible terrain and insufficient energy infrastructure makes it difficult and costly to roll out wire-line networks and fibre optic links in heartland areas. Low-cost satellite-based Internet therefore responds to the access crisis in the region, and provides a potentially affordable opportunity for connectivity.
VSATMapWebversionEnglish.jpg
Document(s)
ICTs, Human Development, Growth and Poverty Reduction: A Background Paper (2009) 2009-04-28
Open file
Open ICT4D 2008-11-19
A working paper that explores the relevance and significance of Openness for ICT4D. Open file
telecentre.org Brochure 2005-11
Click on the file below to read about telecentre.org. Open file
Form(s)
ICT4D Project Directory
Advanced Search
guest (Read)(Ottawa) Login Home|Careers|Copyright and Terms of Use|General Infomation|Contact Us|Low bandwidth
Selasa, 22 Februari 2011
Persaingan Teknologi CDMA dan GSM
DOWNLOAD GRATIS KUMPULAN MAKALAH
FERERENSI TUGAS & MATERI KULIAH
HOME | INDEX | GO
Sains & Teknologi
MASYARAKAT mulai merasakan manfaat kompetisi di sektor telekomunikasi dan persaingan teknologi serta persaingan bisnis antar-operator memberi alternatif pilihan yang menguntungkan. Dengan masuknya Telkomflexi yang berbasis teknologi CDMA (code division multiple access), maka sekarang masyarakat dapat menikmati layanan telepon seluler dengan tarif telepon tetap PSTN. Jadi telepon seluler bukan barang mewah lagi.
DALAM menangani persaingan ini, peranan dan konsistensi regulator benar diuji. Yaitu bagaimana kebijakan dan kebijaksanaan regulasi sektor telekomunikasi untuk mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan para pemain bisnis.
Permasalahan utama pemerintah selama ini adalah bagaimana mempercepat penambahan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Kepadatan telepon (teledensitas) sampai saat ini baru 3,7 persen, atau rata-rata tiga telepon di antara seratus penduduk. Tentunya angka ini akan lebih kecil lagi untuk di daerah-daerah pedesaan atau daerah terpencil yang bisa hanya mencapai 0,01 persen saja. Diperlukan terobosan-terobosan teknologi dan regulasi untuk mendongkrak angka teledensitas Indonesia yang sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita.
Di Indonesia, liberalisasi bisnis seluler dimulai sejak tahun 1995, saat pemerintah mulai membuka kesempatan kepada swasta untuk berbisnis telepon seluler dengan cara kompetisi penuh. Bisa diperhatikan, bagaimana ketika teknologi GSM (global system for mobile) datang dan menggantikan teknologi seluler generasi pertama yang sudah masuk sebelumnya ke Indonesia seperti NMT (nordic mobile telephone) dan AMPS (advance mobile phone system)
Teknologi GSM lebih unggul, kapasitas jaringan lebih tinggi, karena efisiensi di spektrum frekuensi. Sekarang, dalam kurun waktu hampir satu dekade, teknologi GSM telah menguasai pasar dengan jumlah pelanggan lebih dari jumlah pelanggan telepon tetap. Tren ini akan berjalan terus karena di samping fitur-fiturnya lebih menarik, telepon seluler masih merupakan prestise, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Namun, sampai saat ini telepon seluler masih merupakan barang mewah, tidak semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Tarifnya masih sangat tinggi dibandingkan dengan telepon tetap PSTN (public switched telephone network), baik untuk komunikasi lokal maupun SLJJ (sambungan langsung jarak jauh), ada yang mencapai Rp 4.500 per menit flat rate untuk komunikasi SLJJ.
Namun, berapa pun tarif yang ditawarkan operator seluler GSM, karena tidak ada pilihan lain, apa boleh buat, diambil juga. Terutama karena telepon PSTN tidak bisa diharapkan. Jadi, masuknya CDMA menjanjikan solusi teknologi yang ekonomis untuk memenuhi kewajiban pemerintah dalam mempercepat penambahan PSTN. Apalagi, CDMA datang dengan teknologi seluler 3G, yang menawarkan fitur-fitur yang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi GSM. Keunggulan ini sekaligus dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat modern.
Mengapa CDMA bisa murah?
Suatu kali seorang mahasiswa di lift tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu dan saya hanya berkometar, jangan-jangan GSM yang kemahalan. CDMA datang dengan harga 200 dollar AS per SST (satuan sambungan telepon), jauh lebih murah dibandingkan dengan teknologi akses lainnya selama ini di Indonesia sehingga PT Telkom berani memberikan tarif murah. Padahal, CDMA lebih canggih dan lebih unggul dibandingkan dengan GSM.
Kalau begitu, perlu dipertanyakan kembali bagaimana sebenarnya iklim bisnis seluler GSM selama ini termasuk pemain-pemain yang berperan dibalik semua itu. Mulai dari vendor, operator, dan regulator, siapakah yang paling diuntungkan, meski yang jelas bukan masyarakat sebagai konsumen.
Apalagi jika diperhatikan skema kerja sama antara vendor dengan para operator dalam pola pengadaan atau pembelian teknologi. Pedihnya lagi, adakah transfer teknologi yang berarti buat negara kita? Sudah hampir satu dekade, vendor- vendor teknologi jaringan GSM masuk dan berbisnis di Indonesia, kenyataannya kita hanya dijadikan pembeli dan pemakai teknologi semata.
Sekarang dengan masuknya teknologi CDMA dari kubu lain dengan pelaku bisnis baru apakah itu dari Amerika, Jepang, Korea, atau Cina, diharapkan iklim bisnisnya akan lebih terbuka. Perlu dicermati apakah ada itikad baik pemain baru itu untuk meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia kita.
Tentu pemerintah dan para operator harus mempunyai kekuatan negosiasi yang kuat, jangan sampai mereka datang dengan sederet permintaan dan syarat untuk memudahkan mereka berbisnis, sementara kita tidak tahu mau minta apa kepada negara mereka. Meskipun kita tak mempunyai keunggulan kompetitif dalam teknologi ini, tetapi potensi pasar yang menjanjikan, bisa dijadikan kekuatan tawar, misalnya untuk memperjuangkan transfer teknologi yang nyata. Hal lain yang perlu dicermati adalah jangan sampai terjadi ketergantungan pada satu atau dua vendor seperti pengalaman kita terdahulu dengan Siemens.
Dari aspek teknologi, baik GSM atau CDMA merupakan standar teknologi seluler digital, hanya bedanya GSM dikembangkan oleh negara-negara Eropa, sedangkan CDMA dari kubu Amerika dan Jepang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa teknologi GSM dan CDMA berasal dari jalur yang berbeda sehingga perkembangan ke generasi 2,5G dan 3G berikutnya akan berbeda terus seperti bisa dilihat pada skema.
Oleh karena itu, kita harus hati-hati memilih teknologi. Ketika kita memilih CDMA, maka selanjutnya harus mengikuti jalur up-grade CDMA terus. Perlu diingat, up-grade jaringan dalam satu jalur teknologi akan lebih gampang dan lebih murah dibandingkan migrasi ke teknologi lain.
Kinerja jaringan merupakan kriteria berikutnya yang harus diperhatikan dalam pemilihan teknologi. Kinerja jaringan seluler sangat tergantung efisiensi pemakaian spektrum frekuensi dan sensivitas terhadap interferensi karena spektrum frekuensi merupakan sumber daya yang sangat terbatas.
Untuk meningkatkan efisiensi spektrum frekuensi, maka dilakukan teknik penggunaan kembali frekuensi re-used, mempergunakan kembali frekuensi yang sama pada sel lainnya pada jarak tertentu supaya tidak terjadi interferensi. Teknologi CDMA memiliki kapasitas jaringan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi GSM dan frekuensi yang sama dapat dipergunakan pada setiap sel yang berdekatan atau bersebelahan sekalipun.
Teknologi CDMA didesain tidak peka terhadap interferensi. Di samping itu, sejumlah pelanggan dalam satu sel dapat mengakses pita spektrum frekuensi secara bersamaan karena mempergunakan teknik pengkodean yang tidak bisa dilakukan pada teknologi GSM.
Mobilitas terbatas
Mobilitas merupakan keunggulan utama teknologi seluler dibandingkan telepon tetap. Setiap pelanggan dapat mengakses jaringan untuk melakukan komunikasi dari mana saja dan di sini letak perbedaan dengan telepon tetap.
Konsep desain teknologi seluler menjamin mobilitas setiap pelanggan untuk melakukan komunikasi kapan pun dan di mana pun dia berada. Jadi dari aspek teknologi, tidak ada batasan mobiltas pelanggan bahkan jelajah (roaming) internasional dapat dilakukan.
Kalau dilakukan pembatasan, apalagi jika dibatasi penggunaan teknologi itu hanya dalam satu sel, pelanggan hanya bisa melakukan komunikasi atau mempergunakan teleponnya dalam daerah cakupan BTS (base transceiver station) di mana dia berlangganan.
Untuk Jakarta tentu sangat tidak efektif dan tidak efisien karena misalnya pelanggan yang punya rumah di Jakarta Timur, bekerja di Jakarta Pusat, atau belanja ke Glodok, teleponnya sudah tidak bisa dipergunakan. Di samping itu, pembatasan ini bisa dimanfaatkan operator untuk menambah biaya roaming antarsel yang tentu akan merugikan, mempersulit, atau membodohi masyarakat. Jangan sampai karena persaingan bisnis para operator lalu masyarakat dikorbankan. Jika pembatasan tetap ingin dilakukan, tentu perlu dipikirkan batasan yang wajar. Misalnya, batasan cakupan meliputi Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).
Kejadian ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi India sekitar tahun 2000 ketika para operator GSM khawatir bisnis mereka terancam saat CDMA masuk. Pemerintah memberikan izin teknologi seluler CDMA-WLL dioperasikan untuk mempercepat infrastruktur PSTN mereka, untuk mencapai target 7 persen teledensitas pada tahun 2005 mendatang. Sampai sekarang, Pemerintah India tetap konsisten mempertahankan teknologi CDMA, dengan mobilitas tetap dibatasi, tetapi daerah cakupan cukup luas yaitu kira-kira satu provinsi.
Menghadapi persaingan bisnis yang makin sengit dan siklus serta persaingan teknologi yang makin cepat, dalam menentukan kebijakan dan kebijaksanaannya, regulator harus melihat dari segala sudut pandang dengan suatu kajian yang komprehensif, tidak parsial. Dan yang lebih penting lagi, harus mampu mengantisipasi segala perubahan yang mungkin terjadi supaya tidak ketinggalan terus.
Dengan adanya konvergensi teknologi telekomunikasi dengan teknologi informasi, kebijakan lisensi seharusnya tidak lagi tergantung teknologi maupun jasa. Setiap operator bebas memilih teknologi yang paling ekonomis dan cocok untuk meningkatkan daya saing mereka, agar bisa menawarkan jasa kepada masyarakat dengan tarif yang rendah. Regulator benar-benar harus independen, tidak memihak kepada teknologi atau vendor mana pun.
Lebih jauh lagi, liberalisasi sektor ini menuntut regulator untuk menjaga kesinambungan layanan kepada masyarakat, jangan sampai terjadi cherry picking yang mungkin dilakukan oleh pemain-pemain baru. Saat mereka terjepit, mereka begitu saja berangkat tanpa memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Biasanya kasus ini terjadi pada negara-negara berkembang di mana hukum dan regulasi masih sangat lemah, seperti pernah terjadi di India sehingga langkah-langkah strategis perlu dipersiapkan baik oleh regulator maupun operator. Misalnya untuk mengantisipasi persaingan, sebaiknya operator GSM mulai memikirkan alternatif solusi teknologi apakah up-grade atau migrasi.
Oleh karena itu, peran pemerintah dan regulator tetap sangat dibutuhkan untuk menjaga kepentingan masyarakat suatu negara terutama dalam masa transisi dari monopoli ke kompetisi. Bagi negara kita, yang sampai saat ini hanya jadi pembeli dan pemakai teknologi tersebut, tentu harus pintar- pintar memilih teknologi yang paling ekonomis dan cocok dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Jangan sampai terpaku pada suatu teknologi atau pada satu-dua vendor saja. Kita harus bisa mobile secara bebas, tidak limited mobility.
AsmiatiRasyid Pusat Studi Regulasi Telekomunikasi Indonesia dan Pengajar Sekolah Tinggi Management Bandung
Sumber: Kompas Cyber Media
Gratis - Asmak Malaikat, Ilmu Spiritual Warisan Sunan Muria
Berguna untuk pengobatan, keselamatan, kepercayaan diri, wibawa dan ketenangan batin.
Click disini
FERERENSI TUGAS & MATERI KULIAH
HOME | INDEX | GO
Sains & Teknologi
MASYARAKAT mulai merasakan manfaat kompetisi di sektor telekomunikasi dan persaingan teknologi serta persaingan bisnis antar-operator memberi alternatif pilihan yang menguntungkan. Dengan masuknya Telkomflexi yang berbasis teknologi CDMA (code division multiple access), maka sekarang masyarakat dapat menikmati layanan telepon seluler dengan tarif telepon tetap PSTN. Jadi telepon seluler bukan barang mewah lagi.
DALAM menangani persaingan ini, peranan dan konsistensi regulator benar diuji. Yaitu bagaimana kebijakan dan kebijaksanaan regulasi sektor telekomunikasi untuk mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan para pemain bisnis.
Permasalahan utama pemerintah selama ini adalah bagaimana mempercepat penambahan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Kepadatan telepon (teledensitas) sampai saat ini baru 3,7 persen, atau rata-rata tiga telepon di antara seratus penduduk. Tentunya angka ini akan lebih kecil lagi untuk di daerah-daerah pedesaan atau daerah terpencil yang bisa hanya mencapai 0,01 persen saja. Diperlukan terobosan-terobosan teknologi dan regulasi untuk mendongkrak angka teledensitas Indonesia yang sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita.
Di Indonesia, liberalisasi bisnis seluler dimulai sejak tahun 1995, saat pemerintah mulai membuka kesempatan kepada swasta untuk berbisnis telepon seluler dengan cara kompetisi penuh. Bisa diperhatikan, bagaimana ketika teknologi GSM (global system for mobile) datang dan menggantikan teknologi seluler generasi pertama yang sudah masuk sebelumnya ke Indonesia seperti NMT (nordic mobile telephone) dan AMPS (advance mobile phone system)
Teknologi GSM lebih unggul, kapasitas jaringan lebih tinggi, karena efisiensi di spektrum frekuensi. Sekarang, dalam kurun waktu hampir satu dekade, teknologi GSM telah menguasai pasar dengan jumlah pelanggan lebih dari jumlah pelanggan telepon tetap. Tren ini akan berjalan terus karena di samping fitur-fiturnya lebih menarik, telepon seluler masih merupakan prestise, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Namun, sampai saat ini telepon seluler masih merupakan barang mewah, tidak semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Tarifnya masih sangat tinggi dibandingkan dengan telepon tetap PSTN (public switched telephone network), baik untuk komunikasi lokal maupun SLJJ (sambungan langsung jarak jauh), ada yang mencapai Rp 4.500 per menit flat rate untuk komunikasi SLJJ.
Namun, berapa pun tarif yang ditawarkan operator seluler GSM, karena tidak ada pilihan lain, apa boleh buat, diambil juga. Terutama karena telepon PSTN tidak bisa diharapkan. Jadi, masuknya CDMA menjanjikan solusi teknologi yang ekonomis untuk memenuhi kewajiban pemerintah dalam mempercepat penambahan PSTN. Apalagi, CDMA datang dengan teknologi seluler 3G, yang menawarkan fitur-fitur yang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi GSM. Keunggulan ini sekaligus dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat modern.
Mengapa CDMA bisa murah?
Suatu kali seorang mahasiswa di lift tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu dan saya hanya berkometar, jangan-jangan GSM yang kemahalan. CDMA datang dengan harga 200 dollar AS per SST (satuan sambungan telepon), jauh lebih murah dibandingkan dengan teknologi akses lainnya selama ini di Indonesia sehingga PT Telkom berani memberikan tarif murah. Padahal, CDMA lebih canggih dan lebih unggul dibandingkan dengan GSM.
Kalau begitu, perlu dipertanyakan kembali bagaimana sebenarnya iklim bisnis seluler GSM selama ini termasuk pemain-pemain yang berperan dibalik semua itu. Mulai dari vendor, operator, dan regulator, siapakah yang paling diuntungkan, meski yang jelas bukan masyarakat sebagai konsumen.
Apalagi jika diperhatikan skema kerja sama antara vendor dengan para operator dalam pola pengadaan atau pembelian teknologi. Pedihnya lagi, adakah transfer teknologi yang berarti buat negara kita? Sudah hampir satu dekade, vendor- vendor teknologi jaringan GSM masuk dan berbisnis di Indonesia, kenyataannya kita hanya dijadikan pembeli dan pemakai teknologi semata.
Sekarang dengan masuknya teknologi CDMA dari kubu lain dengan pelaku bisnis baru apakah itu dari Amerika, Jepang, Korea, atau Cina, diharapkan iklim bisnisnya akan lebih terbuka. Perlu dicermati apakah ada itikad baik pemain baru itu untuk meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia kita.
Tentu pemerintah dan para operator harus mempunyai kekuatan negosiasi yang kuat, jangan sampai mereka datang dengan sederet permintaan dan syarat untuk memudahkan mereka berbisnis, sementara kita tidak tahu mau minta apa kepada negara mereka. Meskipun kita tak mempunyai keunggulan kompetitif dalam teknologi ini, tetapi potensi pasar yang menjanjikan, bisa dijadikan kekuatan tawar, misalnya untuk memperjuangkan transfer teknologi yang nyata. Hal lain yang perlu dicermati adalah jangan sampai terjadi ketergantungan pada satu atau dua vendor seperti pengalaman kita terdahulu dengan Siemens.
Dari aspek teknologi, baik GSM atau CDMA merupakan standar teknologi seluler digital, hanya bedanya GSM dikembangkan oleh negara-negara Eropa, sedangkan CDMA dari kubu Amerika dan Jepang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa teknologi GSM dan CDMA berasal dari jalur yang berbeda sehingga perkembangan ke generasi 2,5G dan 3G berikutnya akan berbeda terus seperti bisa dilihat pada skema.
Oleh karena itu, kita harus hati-hati memilih teknologi. Ketika kita memilih CDMA, maka selanjutnya harus mengikuti jalur up-grade CDMA terus. Perlu diingat, up-grade jaringan dalam satu jalur teknologi akan lebih gampang dan lebih murah dibandingkan migrasi ke teknologi lain.
Kinerja jaringan merupakan kriteria berikutnya yang harus diperhatikan dalam pemilihan teknologi. Kinerja jaringan seluler sangat tergantung efisiensi pemakaian spektrum frekuensi dan sensivitas terhadap interferensi karena spektrum frekuensi merupakan sumber daya yang sangat terbatas.
Untuk meningkatkan efisiensi spektrum frekuensi, maka dilakukan teknik penggunaan kembali frekuensi re-used, mempergunakan kembali frekuensi yang sama pada sel lainnya pada jarak tertentu supaya tidak terjadi interferensi. Teknologi CDMA memiliki kapasitas jaringan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi GSM dan frekuensi yang sama dapat dipergunakan pada setiap sel yang berdekatan atau bersebelahan sekalipun.
Teknologi CDMA didesain tidak peka terhadap interferensi. Di samping itu, sejumlah pelanggan dalam satu sel dapat mengakses pita spektrum frekuensi secara bersamaan karena mempergunakan teknik pengkodean yang tidak bisa dilakukan pada teknologi GSM.
Mobilitas terbatas
Mobilitas merupakan keunggulan utama teknologi seluler dibandingkan telepon tetap. Setiap pelanggan dapat mengakses jaringan untuk melakukan komunikasi dari mana saja dan di sini letak perbedaan dengan telepon tetap.
Konsep desain teknologi seluler menjamin mobilitas setiap pelanggan untuk melakukan komunikasi kapan pun dan di mana pun dia berada. Jadi dari aspek teknologi, tidak ada batasan mobiltas pelanggan bahkan jelajah (roaming) internasional dapat dilakukan.
Kalau dilakukan pembatasan, apalagi jika dibatasi penggunaan teknologi itu hanya dalam satu sel, pelanggan hanya bisa melakukan komunikasi atau mempergunakan teleponnya dalam daerah cakupan BTS (base transceiver station) di mana dia berlangganan.
Untuk Jakarta tentu sangat tidak efektif dan tidak efisien karena misalnya pelanggan yang punya rumah di Jakarta Timur, bekerja di Jakarta Pusat, atau belanja ke Glodok, teleponnya sudah tidak bisa dipergunakan. Di samping itu, pembatasan ini bisa dimanfaatkan operator untuk menambah biaya roaming antarsel yang tentu akan merugikan, mempersulit, atau membodohi masyarakat. Jangan sampai karena persaingan bisnis para operator lalu masyarakat dikorbankan. Jika pembatasan tetap ingin dilakukan, tentu perlu dipikirkan batasan yang wajar. Misalnya, batasan cakupan meliputi Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).
Kejadian ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi India sekitar tahun 2000 ketika para operator GSM khawatir bisnis mereka terancam saat CDMA masuk. Pemerintah memberikan izin teknologi seluler CDMA-WLL dioperasikan untuk mempercepat infrastruktur PSTN mereka, untuk mencapai target 7 persen teledensitas pada tahun 2005 mendatang. Sampai sekarang, Pemerintah India tetap konsisten mempertahankan teknologi CDMA, dengan mobilitas tetap dibatasi, tetapi daerah cakupan cukup luas yaitu kira-kira satu provinsi.
Menghadapi persaingan bisnis yang makin sengit dan siklus serta persaingan teknologi yang makin cepat, dalam menentukan kebijakan dan kebijaksanaannya, regulator harus melihat dari segala sudut pandang dengan suatu kajian yang komprehensif, tidak parsial. Dan yang lebih penting lagi, harus mampu mengantisipasi segala perubahan yang mungkin terjadi supaya tidak ketinggalan terus.
Dengan adanya konvergensi teknologi telekomunikasi dengan teknologi informasi, kebijakan lisensi seharusnya tidak lagi tergantung teknologi maupun jasa. Setiap operator bebas memilih teknologi yang paling ekonomis dan cocok untuk meningkatkan daya saing mereka, agar bisa menawarkan jasa kepada masyarakat dengan tarif yang rendah. Regulator benar-benar harus independen, tidak memihak kepada teknologi atau vendor mana pun.
Lebih jauh lagi, liberalisasi sektor ini menuntut regulator untuk menjaga kesinambungan layanan kepada masyarakat, jangan sampai terjadi cherry picking yang mungkin dilakukan oleh pemain-pemain baru. Saat mereka terjepit, mereka begitu saja berangkat tanpa memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Biasanya kasus ini terjadi pada negara-negara berkembang di mana hukum dan regulasi masih sangat lemah, seperti pernah terjadi di India sehingga langkah-langkah strategis perlu dipersiapkan baik oleh regulator maupun operator. Misalnya untuk mengantisipasi persaingan, sebaiknya operator GSM mulai memikirkan alternatif solusi teknologi apakah up-grade atau migrasi.
Oleh karena itu, peran pemerintah dan regulator tetap sangat dibutuhkan untuk menjaga kepentingan masyarakat suatu negara terutama dalam masa transisi dari monopoli ke kompetisi. Bagi negara kita, yang sampai saat ini hanya jadi pembeli dan pemakai teknologi tersebut, tentu harus pintar- pintar memilih teknologi yang paling ekonomis dan cocok dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Jangan sampai terpaku pada suatu teknologi atau pada satu-dua vendor saja. Kita harus bisa mobile secara bebas, tidak limited mobility.
AsmiatiRasyid Pusat Studi Regulasi Telekomunikasi Indonesia dan Pengajar Sekolah Tinggi Management Bandung
Sumber: Kompas Cyber Media
Gratis - Asmak Malaikat, Ilmu Spiritual Warisan Sunan Muria
Berguna untuk pengobatan, keselamatan, kepercayaan diri, wibawa dan ketenangan batin.
Click disini
Minggu, 13 Februari 2011
Science and Technology Relations
Your position in this site:
Home > EU-Japan Relations >
Science and Technology Relations
Japan is a very important actor in Science and Technology. The European Commission recognises the importance of cooperation with Japan in these fields, and aims to strengthen relations with Japan.
Under the EU 7th Framework Programme for Research, the funding for exchanges of fellows between the EU and Japan, and that for cooperative research projects are proposed. These mechanisms will enable companies, universities and scientists from Japan to work closer with their European counterparts.
In the context of the December 2001 EU-Japan Action Plan, both the EU and Japan recognise that Science and Technology are key elements for enhancing competitiveness as well as for a sustainable economic and social development. EU-Japan cooperation can help address major scientific, industrial and societal issues and be of mutual benefit to our societies.
For more information on Science and Technology issues, please click the following links.
* The EU 7th Framework Programme for Research (FP7)
o ERC (European Research Council) Grants
* The EU 6th Framework Programme for Research (FP6)
* Marie Curie Actions – 'People' programme
* Science and Technology sources on the web
* The European Research Programme and Japan
* Reports Undertaken by Experts for the Delegation of the European Commission to Japan
* FUTURIS - TV Magazine Introducing EU Research Projects
* Member States' Activities in Research and Development
* EURAXESS Links/Japan- A Network for European Researchers in Japan
* Research and Innovation Clusters
© Copyright 1998-2011 Delegation of the European Union to Japan. All rights reserved.
Home > EU-Japan Relations >
Science and Technology Relations
Japan is a very important actor in Science and Technology. The European Commission recognises the importance of cooperation with Japan in these fields, and aims to strengthen relations with Japan.
Under the EU 7th Framework Programme for Research, the funding for exchanges of fellows between the EU and Japan, and that for cooperative research projects are proposed. These mechanisms will enable companies, universities and scientists from Japan to work closer with their European counterparts.
In the context of the December 2001 EU-Japan Action Plan, both the EU and Japan recognise that Science and Technology are key elements for enhancing competitiveness as well as for a sustainable economic and social development. EU-Japan cooperation can help address major scientific, industrial and societal issues and be of mutual benefit to our societies.
For more information on Science and Technology issues, please click the following links.
* The EU 7th Framework Programme for Research (FP7)
o ERC (European Research Council) Grants
* The EU 6th Framework Programme for Research (FP6)
* Marie Curie Actions – 'People' programme
* Science and Technology sources on the web
* The European Research Programme and Japan
* Reports Undertaken by Experts for the Delegation of the European Commission to Japan
* FUTURIS - TV Magazine Introducing EU Research Projects
* Member States' Activities in Research and Development
* EURAXESS Links/Japan- A Network for European Researchers in Japan
* Research and Innovation Clusters
© Copyright 1998-2011 Delegation of the European Union to Japan. All rights reserved.
Langganan:
Komentar (Atom)