Terapan
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Loganue Saputra Jr {alf}
Ingin mengubah hidup dengan fiksi. Dan setelah itu ingin mengubah dunia menjadi lebih baik.
Ruang & Waktu serta Kecepatan Cahaya
OPINI | 24 February 2011 | 17:05 147 27
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Komet adalah benda langit yang memiliki lintasan panjang dan kadang teratur, bentuknya yang terasa berekor (karena kecepatan gerak yang terbentuk akibat tekanan osmotik ruang angkasa mengakibatkan nyala pergerakan yang dibuatnya menimbulkan cahaya yang seolah-olah tertinggal). Nah dalam teori kecepatan cahaya, kecepatan lintasan komet sering di persepsikan sebagai kecepatan cahaya yang menembus pergerakan ruang hampa udara dimana pergerakannya itu menimbulkan gelombang udara yang menyeret lintasannya sendiri dan menghilang dalam hitungan detik.
Dengan teori bahwa pergerakan benda langit yang menggunakan kecepatan lintasan yang hampir menyamai kecepatan cahaya dan dengan pergerakan itu bisa menciptakan udara yang mengakibatkan pergesekan benda langit dengan ruang hampa udara sehingga terbentuklah nyala api yang terlihat samar maka, perjalanan waktu dengan melintasi pergerakan cahaya bisa dilakukan.
Ibaratnya seperti sekumpulan burung terbang yang membentuk pormasi meruncing dimana burung paling depan memiliki tugas untuk memecah ruang udara sehingga pergerakan mereka akan selalu tetap konstan. Jadi bagaimana cara mengikuti lintasan suatu komet untuk membentuk perjalanan antar galaksi?. Jawabannya adalah dengan mengikuti panjang lintasan suatu komet yang menembus pergerakan ruang dan waktu yang melewati suatu galaksi setiap ribuan tahun kecepatan cahaya.
Jika di piker dengan sangat jelas, terlalu mustahil manusia melakukan hal itu akan tetapi bagaimana jika kemudian pergerakan kecepatan cahaya itu kita samakan dengan teori yang pernah di cetuskan oleh Einstein?, simak sedikit penjelasan tentang teori di bawah ini :
Teori ini merupakan penjelasan gravitasi termutakhir dalam fisika modern, relativitas khusus, dengan hukum gravitasi Newton. Hal ini dilakukan dengan melihat gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi lebih sebagai manifestasi dari kelengkungan ruang dan waktu. Utamanya, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan momentum empat yakni energi massa dan momentum linear, dari materi atau radiasi apa saja yang ada. Hubungan ini digambarkan oleh persamaan medan Einstein. Teori ini memprediksikan adanya keberadaan daerah lubang hitam yang mana ruang dan waktu terdistorsi sedemikiannya tiada satu pun, bahkan cahaya pun, yang dapat lolos darinya. Terdapat bukti bahwa lubang hitam bintang dan jenis-jenis lubang hitam lainnya yang lebih besar bertanggungjawab terhadap radiasi kuat yang dipancarkan oleh objek-objek astronomi tertentu, seperti inti galaksi aktif dan miktrokuasar. Melengkungnya cahaya oleh gravitasi dapat menyebabkan fenomena pelensaan gravitasi.
Nah dalam teori di atas di katakana radiasi kuat yang di pancarkan oleh objek-objek astronomi tertentu, dalam hal ini kita bisa mengambil contoh yaitu komet tadi, di mana pergerakannya benar-benar bisa menembus ribuah tahun kecepatan cahaya dalam beberapa menit saja.
Setelah penjelasan panjang ini maka aka nada lagi pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah pesawat yang di ciptakan manusia bisa memiliki kecepatan yang seimbang dengan kecepatan komet sedangkan persediaan bahan bakar yang dimiliki tidak akan pernah cukup untuk melakukan ini semua.
Maka dengan bangga penjelasan ini akan terasa masuk akal jika bahan bakar yang digunakan adalah “antimateri” sebuah energi yang berbentuk kecil tetapi memiliki kekuatan yang melebihi ribuan kecepatan cahaya
Lalu, kita bisa menciptakan kecepatan melebihi kecepatan cahaya dengan antimateri itu, mengontrol massa antimateri yang digunakan dengan perhitungan yang matang serta tepat lalu membatasi energi yang terpancarkan dengan gelombang grafitasi sehingga kelengkungan ruang dan waktu terkontrol dengan tepat.[]
Tulisan ini adalah analisa ngaur yang aku tulis sebagai ringkasan materi fiksi ilmiahku yang berjudul N. data dalam tulisan ini adalah data nyata yang di campur aduk dengan pemikiran rasional dalam kepalaku, jadi jangan perotes jika perhitungan dalam teori-teori ini adalah salah karena masih belum pernah diuji cobakan.
1298541805450924040
About Kompasiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar